Jangan lari. Hadapi.
Langsung to the point.
- Frustasi karena merasa dia orang paling merana dan sengsara di dunia. Padahal? Kalau dia mau lihat disekitar dia, masih banyak sekali orang yang lebih sengsara dibanding dirinya.
- Dan lupa diri. Lupa bersyukur kalau sebenarnya dia mau menelaah lebih jauh, masalah itu bisa jadi alat ukur seberapa kuat kita mampu menyelesaikannya. Masalah itu sebuah ujian.
Hm,yang salah itu ya karena kita menjadikan masalah itu jadi 'sebuah masalah'. Jadi yang salah itu cara pandangnya. Oke, saya koreksi deh, bukan suatu kesalahan tapi kekeliruan. "Terus kita nggak boleh sedih kalau dapat masalah gitu?" Nggak juga kok. Sedih boleh, nangis boleh, kecewa boleh, kesel boleh. Tapi jangan pernah berpikir untuk lari dari masalah itu. Lari disini bukannya lari marathon ya hehe, jangan artiin secara harfiahnya aja.
Maksudnya lari disini adalah dengan pura-pura lupa kalau kita punya masalah. Mmm contohnya gini, saya sering lihat orang-orang yang punya banyak masalah, tapi dia nggak pernah cerita sama orang-orang didekatnya. Justru dia banyak senyum dan tertawa di depan banyak orang. Kenapa gitu? karena menurut dia, dia nggak suka nunjukkin masalahnya atau kesedihannya di depan orang lain. Dia nggak mau orang tau kalau dia lagi sedih atau sakit. Dan pada akhirnya kalau masalah dia ketauan oleh orang lain, pasti banyak yang berkomentar.... "Wah hebat ya dia selalu pasang wajah senang loh padahal ternyata banyak masalahnya".
Tapi menurut saya nggak. Nggak selalu gitu. Nggak selalu orang yang nutupin masalahnya itu orang yang 'kuat'. Menurut saya sendiri, orang ini bisa jadi dikategorikan 'lari dari masalah' loh. Iya bisa, kalau dia sembunyiin masalahnya dari orang lain dan dirinya sendiri. Pura-pura kalau hidupnya itu selalu lancar lurus mulus bagaikan jalan tol. Dia hidup dengan topeng kalau begitu? Dia nggak mau orang tahu tapi dibelakang dia juga nggak concern sama dirinya sendiri dengan bersikap seperti itu.
Walaupun ada juga yang memang benar-benar kuat di depannya dan di belakangnya banyak masalah, tapi dia juga sambil menyelesaikan masalahnya dengan caranya sendiri. Mungkin ini yang lebih sehat.
Kalau dipikir-pikir juga sih, siapa juga orang yang mau mendengarkan semua hal yang sedih-sedih tentang kita setiap hari? Dengerin keluhan kita tentang hidup. Nggak ada. Nggak ada yang kuat dicurhatin kayak gitu setiap hari. Entahlah kalau sebagai pasangan. Tapi belum tentu juga sih, lama-lama orang juga pasti jenuh dengan cerita kita kan? Tapi juga jangan sembunyiin semua masalah kita.
Don't ever burn the bridge behind you. And don't ever run from your problems. Face it, people.
Jangan pernah pura-pura lupa kalau kita punya masalah sejibun, atau masa lalu suram, atau apapun yang bisa bikin kita malu banget kalau membagi cerita itu dengan orang lain. Jangan dulu lari, lihat masalahnya, gimana cara menyelesaikannya. Kalau udah buntu mau ngapain, nggak tau langkah apa lagi yang harus diambil, mungkin bisa sharing dengan orang lain. Sarannya sih,jangan asal cerita ke orang lain. Pilih orang yang bisa dipercaya dan kita nyaman dengan mereka. Yang sudah kenal kita 'banget'. Karena nggak semua orang itu mau mengerti kita. Bisa aja dia cuma ngangguk-ngangguk dengernya, padahal sebenarnya nggak peduli juga sama kita. Buat apa, ya kan?.
Dan jangan lupa buat batasan. Maksudnya gini, nggak semua hal harus diceritain. Setiap orang punya satu hal yang nggak mau diceritain ke orang lain kan. Ceritain yang penting aja, akar masalahnya apa, jangan terlalu 'curhat'. Nanti malahan bisa jadi drama queen kedengarannya. Orang nggak perlu tau tentang semuaaaa hal yang terjadi di hidup kita, ya kan?
Jadi intinya cerita dengan orang lain juga bisa menambah pengetahuan kita, nggak rugi. Kita jadi tahu cara pandang orang lain itu seperti apa. Jiwa kita juga jadi lebih sehat dengan curhat.
So what're you now? Masked or unmasked?





0 comments:
I don't hate comments ;)