mimpi jadi tukang reparasi

Saturday, February 26, 2011 Amelia D Astuti 0 Comments

Sejujurnya ini pengamalam pribadi gue. Dulu pas SMP, gue pernah punya cita-cita jadi tukang reparasi. Ya ya ya. Oke, kalian boleh ketawa. Emang beda banget kalo dibandingin sama kebanyakan cita-cita temen-temen gue, disaat yang lain mau jadi dokter, polisi, guru, model. Eh, gue malah mau jadi tukang reparasi. Aneh ya haha, bisa dibilang ini cita-cita gue yang paling spontan. Alesannya simpel, karena gue suka banget sama semua yang ‘berbau’  teknologi. Bedanya sama kebanyakan cewek, gue suka kabel (jangan salah mengartikan hehe), dan juga obeng. Dan tentunya gue masih normal. Gue juga suka ngutak-ngatik komputer-tv cs. Nggak tau kenapa, gue cuma selalu penasaran kalau ada barang yang rusak, dan gue cuma seneng dan nggak pernah bosen ngelakuin itu. Alhasil, kenyataan jadi tukang reparasi pun sedikit terwujud, paling nggak di ruang lingkup rumah. Kalo ada alat yang rusak di rumah, gue pun beraksi hehe. Paling nggak gue jadi diandalkan, ya nggak?. Rasanya seneng dan bangga aja kalau alat yang rusak bisa kembali ke wujud semula. Nah, itu sadikit sejarah tentang mimpi gue yang -mungkin- konyol. Sebenernya, mimpi gue nggak cuma itu aja. Banyak banget, cuma gue rasa nggak perlu disebutin satu-satu aja.
Ngomongin tentang mimpi, mungkin banyak dari kita yang udah ngelupain mimpinya atau bahkan mereka emang nggak punya mimpi. Ironis karena mereka nggak tau seperti apa sebenarnya kekuatan mimpi itu. Kalau gue sendiri menanggap mimpi itu sebagai tujuan hidup. Ya, mau ngapain lagi hidup kita kalau bukan untuk merealisasikan mimpi-mimpi kita di masa depan?. Kesuksesan itu berawal dari sebuah mimpi lho. Singkatnya, gue disini cuma mau ngajak kalian bermimpi. Gampang kan?. Dan nggak usah keluar uang untuk itu, nggak perlu juga sekolah tinggi-tinggi cuma untuk bisa mimpi. Kenapa? Soalnya mimpi nggak cuma milik orang-orang kaya. Kita semua, entah siapapun itu, bebas untuk bermimpi. Berani. Cuma itu yang dibutuhin untuk bisa bermimpi. Berani untuk bermimpi, berani untuk mencoba dan berani untuk gagal. Itu kuncinya. Gue sendiri, nggak takut untuk bermimpi.

“Mimpi itu seperti sayap, dia membawamu ke berbagai tempat. Ketika kita membuang mimpi, itu sama aja dengan memotong sayap burung. Burung tersebut emang nggak akan lari, tapi burung tanpa sayap udah bukan burung lagi. Dan, manusia tanpa mimpi, udah bukan manusia lagi”

0 comments:

I don't hate comments ;)

Ask : Apa curhat itu perlu?

Wednesday, February 23, 2011 Amelia D Astuti 0 Comments

Sebenernya gue paling nggak suka dan nggak biasa curhat, apalagi sama temen (kecuali tentang cowo -red). Bahkan sahabat gue sekalipun kebanyakan nggak begitu tau masalah-masalah –pribadi- gue, karena gue nggak mudah percaya dengan orang lain.
Dan gue juga nggak suka nulis diary. Ya, mungkin agak aneh ya tapi emang gue nggak suka nulis diary. Berkali-kali gue udah beli buku diary dan nyobain (lebih tepatnya maksa) diri gue untuk rutin ngisi buku itu. Emang dasar dari sananya gue nggak suka, alhasil buku malang itu malahan berubah fungsi jadi coret-coretan anak SD, ckck. Gue lebih suka nulis ngacak kapan aja kalau gue mau, tapi itu juga jarang. Mungkin itu sebabnya kadang tiba-tiba, gue ngerasa nyesek banget, jadi uring-uringan, jadi marah-marah nggak jelas, karena gue nggak berbagi masalah gue dengan orang lain.
Jadi, gue punya semacam ‘ritual’ sendiri untuk mengatasi dan mengalihkan pikiran sementara dari masalah. ex :
  •  Dengerin lagu. Cara tersimpel dan mungkin terampuh yang bisa dilakuin. Gue punya banyak playlist lagu di laptop, khusus untuk mood. Ada ‘just take-it-slow’, isinya lagu-lagu yang bisa nyemangatin gue. Ada juga ‘bring it on’, kalau gue lagi seneng. De el el. Jadi kalau mood lagi naik-turun tinggal pasang lagu sesuai dengan mood saat itu.
  • Baca buku. Lebih baik baca buku yang ‘ringan’ aja kayak komik atau novel biasa gitu. Biasanya gue baca komik doraemon hehe, tapi jangan yang terlalu berbobot kayak Da Vinci Code (walaupun gue suka banget). Bisa-bisa nambah stress hehe -.-V
  •  Main keyboard, atau alat musik lainnya karena secara nggak langsung ketika kita main musik sebenernya kita juga menyalurkan emosi kita.
  •  Tidur. Gue paling suka yang satu ini haha. Dengan tidur berarti kita meng-istirahatkan otak kita sementara dari masalah apapun itu (ngeles).
  • Googling. Namanya juga manusia modern, pasti nggak bisa jauh dari kecanggihan teknologi. Dan cara ini merupakan salah satu cara memanfaatkannya, hehe. Lewat mbah Google, kita bisa cari tau cara ngatasin masalah kita dengan buka site khusus psikologi atau site buat curhat-curhatan gitu. Karena nggak face to face jadi kita bisa bebas curhat tanpa saling kenal. Cocok lah buat gue.
  • Berdoa. Gue lebih suka curhat langsung sama Sang Pencipta. Menurut gue ini cara paling ampuh.

Nah, kalau semua cara udah dilaksanain tapi belum mempan juga, dan hati masih gundah gulana.  Baru deh, gue curhat sama orang bukan binatang. Tergantung masalahnya, kalau cowok ke sahabat. Lainnya ke nyokap hehe.

Menurut pandangan gue, ceilah. Sebenernya curhat itu perlu karena kita terkadang butuh masukkan dari orang lain biar nggak salah langkah. Tapi tetap ada batasnya, jangan sampai semuanya diceritain ke orang lain. Masih untung kalau orang yang kita certain tadi bertanggung jawab, kalau nggak? Bisa-bisa masalah kita malahan diumbar ke orang lain dan jadi masalah dari mulut ke mulut. Kalau udah gitu kan ribet. Makanya sebelum kita curhat pikir dulu apa yang mau diomongin, kalau masih bisa diselesaikan sendiri ya sendiri aja tapi kalau kita memang lagi butuh banget dapet masukkan dari orang lain baru deh curhat. Itupun ke orang yang udah bisa dipercaya. Dan yang perlu diingat lagi adalah curhat juga ada etika-nya. Jangan sampai mengganggu orang lain.
 Intinya curhatlah dengan ‘sehat’ J

0 comments:

I don't hate comments ;)

11-02-2011

Friday, February 11, 2011 Amelia D Astuti 0 Comments

Hari itu gue sakit. Awalnya gue maksain diri buat masuk sekolah,karena ada ulangan dan gue males untuk ulangan susulan. Tapi nyokap gue ngelarang. Dia bilang istirahat dulu sampai senin sekalian biar bisa berobat ke Bandung. Akhirnya gue meng-iya-kan dengan berat. Karena walaupun gue lagi sakit biasanya gue pantang untuk nggak masuk.
Setelah nyokap pergi, ‘Dia’ masuk kamar gue.
“Kenapa nggak masuk? Sekolah libur?”
“Nggak. Sakit”
“Apa?”
“Sakit”
“Hah?”
“SAKIT”
“......” ‘Dia’ langsung nutup pintu kamar dan pergi.
‘Dia’ bahkan nggak nanya gue sakit apa. ‘Dia’ bahkan nggak nanya kenapa gue sakit. ‘Dia’ bahkan nggak nanya gue udah minum obat apa belum. Dan ‘Dia’ bahkan nggak nawarin gue untuk berobat ke dokter. Walaupun akhirnya gue juga akan nolak tawarannya. Dan walaupun hati kecil gue bilang itu lebih baik, karena ngebuktiin bahwa benar ‘Dia’ nggak peduli. Dan gue berusaha untuk tersenyum.

0 comments:

I don't hate comments ;)