Ask : Apa curhat itu perlu?
Sebenernya gue paling nggak suka dan nggak biasa curhat, apalagi sama temen (kecuali tentang cowo -red). Bahkan sahabat gue sekalipun kebanyakan nggak begitu tau masalah-masalah –pribadi- gue, karena gue nggak mudah percaya dengan orang lain.
Dan gue juga nggak suka nulis diary. Ya, mungkin agak aneh ya tapi emang gue nggak suka nulis diary. Berkali-kali gue udah beli buku diary dan nyobain (lebih tepatnya maksa) diri gue untuk rutin ngisi buku itu. Emang dasar dari sananya gue nggak suka, alhasil buku malang itu malahan berubah fungsi jadi coret-coretan anak SD, ckck. Gue lebih suka nulis ngacak kapan aja kalau gue mau, tapi itu juga jarang. Mungkin itu sebabnya kadang tiba-tiba, gue ngerasa nyesek banget, jadi uring-uringan, jadi marah-marah nggak jelas, karena gue nggak berbagi masalah gue dengan orang lain.
Jadi, gue punya semacam ‘ritual’ sendiri untuk mengatasi dan mengalihkan pikiran sementara dari masalah. ex :
- Dengerin lagu. Cara tersimpel dan mungkin terampuh yang bisa dilakuin. Gue punya banyak playlist lagu di laptop, khusus untuk mood. Ada ‘just take-it-slow’, isinya lagu-lagu yang bisa nyemangatin gue. Ada juga ‘bring it on’, kalau gue lagi seneng. De el el. Jadi kalau mood lagi naik-turun tinggal pasang lagu sesuai dengan mood saat itu.
- Baca buku. Lebih baik baca buku yang ‘ringan’ aja kayak komik atau novel biasa gitu. Biasanya gue baca komik doraemon hehe, tapi jangan yang terlalu berbobot kayak Da Vinci Code (walaupun gue suka banget). Bisa-bisa nambah stress hehe -.-V
- Main keyboard, atau alat musik lainnya karena secara nggak langsung ketika kita main musik sebenernya kita juga menyalurkan emosi kita.
- Tidur. Gue paling suka yang satu ini haha. Dengan tidur berarti kita meng-istirahatkan otak kita sementara dari masalah apapun itu (ngeles).
- Googling. Namanya juga manusia modern, pasti nggak bisa jauh dari kecanggihan teknologi. Dan cara ini merupakan salah satu cara memanfaatkannya, hehe. Lewat mbah Google, kita bisa cari tau cara ngatasin masalah kita dengan buka site khusus psikologi atau site buat curhat-curhatan gitu. Karena nggak face to face jadi kita bisa bebas curhat tanpa saling kenal. Cocok lah buat gue.
- Berdoa. Gue lebih suka curhat langsung sama Sang Pencipta. Menurut gue ini cara paling ampuh.
Nah, kalau semua cara udah dilaksanain tapi belum mempan juga, dan hati masih gundah gulana. Baru deh, gue curhat sama orang bukan binatang. Tergantung masalahnya, kalau cowok ke sahabat. Lainnya ke nyokap hehe.
Menurut pandangan gue, ceilah. Sebenernya curhat itu perlu karena kita terkadang butuh masukkan dari orang lain biar nggak salah langkah. Tapi tetap ada batasnya, jangan sampai semuanya diceritain ke orang lain. Masih untung kalau orang yang kita certain tadi bertanggung jawab, kalau nggak? Bisa-bisa masalah kita malahan diumbar ke orang lain dan jadi masalah dari mulut ke mulut. Kalau udah gitu kan ribet. Makanya sebelum kita curhat pikir dulu apa yang mau diomongin, kalau masih bisa diselesaikan sendiri ya sendiri aja tapi kalau kita memang lagi butuh banget dapet masukkan dari orang lain baru deh curhat. Itupun ke orang yang udah bisa dipercaya. Dan yang perlu diingat lagi adalah curhat juga ada etika-nya. Jangan sampai mengganggu orang lain.
Intinya curhatlah dengan ‘sehat’ J


0 comments:
I don't hate comments ;)